Thu. Jan 7th, 2021

Itu Aja

Blog Informasi, Artikel Seru, Promo Menarik

Raja Belanda Meminta Maaf Kepada Indonesia, Pembantaian Tidak Bisa Dilupakan

2 min read
Minta Maafnya jadi Sorotan 5 Kasus Pembantaian Keji Oleh Belanda Ini Tak Bisa Dilupakan - Raja Belanda Meminta Maaf Kepada Indonesia, Pembantaian Tidak Bisa Dilupakan

Itu aja – Raja Belanda Yang Bernama Willem Alexander dan Di dampingi Ratu Maxima Ke Indonesia. Atas Kunjungannya Ke Indonesia, Raja pun Meminta maaf kepada Publik terkait peristiwa masa lalu pada saat masa Peperangan

Namun, Pembataian tersebut banyak yang tak bisa lupakan oleh warga Indonesia, Mereka Beranggap Pembantaian ini sangat sulit untuk di maafkan. Berikut 5 Kasus Pembataian yang tidak bisa di lupakan yang di Lansir Oleh Ituaja.com

1. Pembataian Rawagede

110915arawagede1 - Raja Belanda Meminta Maaf Kepada Indonesia, Pembantaian Tidak Bisa Dilupakan

Awal Terjadinya pembantaian Massal di Desa Rawagede, Karawang, Jawa Barat. para militer Belanda Ingin mencari Sosok Sang Kapten Yang bernama Kapten Lukas Kustario, Karena Militer Belanda Tidak dapat menemukan Kapten Lukas, Sasarannya Para laki laki yang di kumpulknan di sebuah lapangan kemudia dieksekusi tembak massal.

2. Kasus Eksekusi Massal Raymond Westerling

2497963026 - Raja Belanda Meminta Maaf Kepada Indonesia, Pembantaian Tidak Bisa Dilupakan

Pada Desember 1946 hingga Februari 1947, menjadi bulan-bulan yang memilukan bagi masyarakat yang ada di Sulawesi Selatan. Saat itu, Kapten Raymond Pierre Paul Westerling bersama pasukan khusus Belanda Depot Speciale Troepen (DST) membantai ribuan rakyat sipil setempat. Selama kurun waktu 5 Desember 1946 hingga 21 Februari 1947, tercatat sedikitnya 40.000 orang telah dibantai oleh Westerling dan pasukannya.

3. Ekspedisi militer yang membuat Aceh mandi darah

Koeto reh - Raja Belanda Meminta Maaf Kepada Indonesia, Pembantaian Tidak Bisa Dilupakan

Ekspedisi militer yang membuat Aceh mandi darahKekejaman tentara Belanda juga pernah dilakukan pada masyarakat Aceh saat pihaknya melaksanakan ekspedisi militer ke Gayo dan Alas. Menurut Deli Courant (1940) menyebutkan, ada 313 pria, 189 wanita, dan 59 anak-anak menjadi korban tewas pada salah satu desa di Gayo. Dalam laporan lainnya yang berjudul “De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden” (1904), J.C.J. Kempees yang merupakan ajudan Van Daalen – pemimpin operasi militer di Aceh, menyebut bahwa korban meninggal sebanyak 4.000 orang.

4. Gerbong Maut Menelan Puluhan Korban

8b3cca6b ed56 4df7 b4b1 4c82d24e9477 169 - Raja Belanda Meminta Maaf Kepada Indonesia, Pembantaian Tidak Bisa Dilupakan

Peristiwa Gerbong Maut juga menjadi salah satu kasus di masa lalu yang seolah tidak mendapat dari pemerintah Belanda. Saat itu, masyarakat sipil yang terdiri dari pedagang, guru, pegawai perkebunan, dan beberapa pejuang kemerdekaan, dimasukkan secara serampangan ke dalam sebuah gerbong kereta yang sempit untuk dibawa ke Surabaya. 46 orang diketahui meninggal dunia, 11 sakit parah, 31 dalam keadaan lemas, dan hanya 12 orang saja yang sehat.

5. Kekejaman pasukan KNIL membantai anggota Palang Merah Remaja (PMR)

asascasc - Raja Belanda Meminta Maaf Kepada Indonesia, Pembantaian Tidak Bisa Dilupakan

Kejadian yang berada di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Jawa Timur itu, menjadi saksi kebrutalan pasukan Koninklijke Nederlanch-Indische Leger (KNIL). Di mana ada 10 korban tewas yang merupakan anggota PMR. Kejadian ini pun sempat mendapat sorotan luas di dunia internasional yang berujung berhentinya Agresi Militer Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *