Fri. Jan 8th, 2021

Itu Aja

Blog Informasi, Artikel Seru, Promo Menarik

Penampakan Sungai Sampah Di Kaki Gunung Rinjani

4 min read
sungai sampah - Penampakan Sungai Sampah Di Kaki Gunung Rinjani

Ituaja.com – Pemandangan tak elok terlihat dari atas jembatan sungai yang menuju ke arah rumah adat dan obyek wisata Bukit Selong, Sembalun Lawang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat atau di kaki Gunung Rinjani.

Sejauh mata memandang, hanya terlihat tumpukan sampah bercampur dengan hewan ternak sapi yang sedang mencari makanan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan program nihil sampah (Zero Waste) yang digadang-gadang oleh pemerintah setempat. Terlebih lagi, areal tumpukan sampah itu menuju ke arah objek wisata, dimana wisatawan bisa melihat “permadani” lahan pertanian bawang putih milik warga.

Kawasan wisata Sembalun terus berbenah. Pembangunan sarana publik pun tak luput dipoles pemerintah. Sejak dibukanya kawasan wisata di kaki Gunung Rinjani. Pemandangan yang selalu memanjakan setiap mata para wisatawan lokal maupun mancanegara. Panorama alam nan indah serta udaranya yang sejuk, membuat wisatawan betah dan berkali-kali berkunjung ke Sembalun.

Berbeda jauh dengan kondisi saat ini, seakan melupakan keindahan dan kebersihan kawasan tersebut. Terlebih lagi pada 22 Agustus 2020, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) resmi dibuka untuk pendakian.

“Sayang saja kondisi sampah ini masih belum terselesaikan. Kita tidak enak juga melihatnya,” kata Imron, salah seorang warga Jakarta yang pernah berkunjung ke obyek wisata Bukit Selong. Seperti dilansir Antara, Minggu (23/8).

Dia berharap pemerintah setempat segera memikirkan persoalan sampah. Karena akan memengaruhi kunjungan wisatawan. “Khususnya wisatawan asing, mereka paling memperhatikan soal sampah itu,” katanya.

Salah seorang warga setempat mengakui banyaknya sampah itu akibat kurangnya kesadaran dari warga yang masih banyak membuang sampah sembarangan.

“Memang perlu ada kesadaran dari warga untuk tak membuang sampah sembarangan,” katanya.

Sebelumnya, Camat Sembalun, M Zaidar Rahman pernah mengakui bahwa warga desa masih memanfaatkan sungai sebagai tempat membuang sampah. Karena belum ada sarana dan prasarana yang memadai. Baik tempat pembuangan sementara maupun tempat pembuangan akhir.

“Persoalan sampah memang menjadi tanggung jawab semua pihak, bukan tugas pemerintah saja. Kita bangun sarana prasarana dari dana desa itu saja tidak cukup. Butuh kesadaran semua pihak,” katanya dalam acara perempuan berbincang di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (11/8).

Kepala Desa Sembalun Bumbung, Sunardi juga mengakui sebanyak enam desa di Kecamatan Sembalun, menghadapi persoalan sampah. Khususnya di Desa Sembalun Bumbung.

Dia menyebutkan volume sampah yang dihasilkan oleh warga Desa Sembalun Bumbung, sekitar 5.000 kilogram per hari, baik sampah organik maupun anorganik berupa plastik.

Semua sampah tersebut dibuang sembarangan, baik di sungai maupun di pinggir kawasan hutan.

“Kami sudah mencoba untuk menggalakkan program Olah Sampah Tuntas (Osamtu), dan sekarang sedang berjalan di tingkat rumah tangga,” ujarnya.

Darurat Sampah

Pendiri Komunitas Perempuan Sembalun Belajar, Baiq Sri Mulya menuturkan, Kecamatan Sembalun sebagai destinasi wisata dan pintu masuk pendakian Gunung Rinjani, sudah masuk kategori darurat sampah. Sebab, perhatian terhadap infrastruktur dasar, seperti manajemen sampah sangat kurang.

“Sungai, hutan, pinggir jalan, selokan dan jembatan, rumpun bambu bahkan tanah lapang dijadikan sebagai tempat pembuangan,” ucap Baiq.

Dia juga mengkritisi program-program yang telah dijalankan. Seperti Bank Sampah di Desa Sembalun, dan TPST3R di Desa Sembalun Bumbung, meskipun sudah dibangun dengan luar biasa bagus, tetapi tidak bisa menjadi solusi karena besarnya faktor kegagalan.

Menurut Baiq, perempuan sebagai pemangku urusan domestik keluarga adalah kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak dari Sembalun darurat sampah. Sebab, tidak ada solusi dan edukasi pun kurang berarti.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Nusa Tenggara Barat Madani Mukarom, mengakui bahwa sampah menjadi persoalan yang serius di Kecamatan Sembalun sebagai destinasi wisata agro dan pintu masuk pendakian Gunung Rinjani. Sebab, masyarakat di daerah itu membuang sampah sembarangan, terutama di sungai.

Sampah di Sembalun juga menjadi bagian dari 3,5 juta ton sampah yang dihasilkan oleh masyarakat NTB setiap hari. Dari jumlah tersebut, baru 20 persen saja yang sudah diolah, sisanya sebesar 80 persen dibuang ke sungai, laut, dan pinggir kawasan hutan.

Madani juga mengaku belum mengetahui secara pasti berapa volume sampah yang dihasilkan oleh warga di Kecamatan Sembalun, termasuk dari aktivitas industri pariwisata yang berkembang di kawasan kaki Gunung Rinjani tersebut.

“Tapi bisa dikalkulasikan setiap jiwa penduduk memproduksi sampah sebesar 0,7 kilogram per hari. Tinggal kalikan saja dengan jumlah penduduk Kecamatan Sembalun sekitar 22 ribu jiwa. Belum termasuk wisatawan yang berkunjung,” ujarnya.

Pelatihan Mengolah Sampah

Dia menawarkan kaum perempuan di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, ikut pelatihan mengolah sampah menjadi pelet bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebagai solusi permasalahan limbah plastik di kawasan wisata.

“Kalau mereka siap untuk dilatih, kami bisa kirim untuk dilatih di PLTU Jeranjang yang sudah memanfaatkan pelet dari sampah sebagai substitusi batu bara,” kata Madani usai mengikuti acara perempuan berbincang di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Selasa.

Acara perempuan berbincang yang digelar oleh Komunitas Perempuan Sembalun Belajar tersebut mengangkat tema “Sembalun Darurat Sampah dan Darurat Air”.

Dia mengakui bahwa sampah menjadi persoalan yang serius di Kecamatan Sembalun sebagai destinasi wisata agro dan pintu masuk pendakian Gunung Rinjani. Sebab, masyarakat di daerah itu masih membuang sampah sembarangan, terutama di sungai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *