Sat. Jan 9th, 2021

Itu Aja

Blog Informasi, Artikel Seru, Promo Menarik

Masih Berpikiran Virus Corona Senjata Biologis ?

3 min read
senjata biologi - Masih Berpikiran Virus Corona Senjata Biologis ?

t 5e2ea6dc9ef2b 300x225 - Masih Berpikiran Virus Corona Senjata Biologis ?

Jakarta – Banyak informasi beredar yang menyatakan bahwa virus penyebab COVID-19 memang sengaja dibuat atau produk rekayasa dari hasil laboratorium. Hasil studi yang hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine terbaru membantahnya dengan kesimpulan bahwa virus corona baru tersebut adalah buah proses evolusi alami.

Studi yang dipimpin oleh Kristian Andersen selaku profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research Institute di La Jolla, California, Amerika Serikat. Profesor tersebut menjelaskan bahwa sejak awal wabah COVID-19 para peneliti telah mengikuti asal – usul virus penyebab pneumonia itu dengan menganalisis data urutan genomnya.

Dengan membandingkan data urutan genom jenis – jenis virus corona yang sudah diketahui, profesor imunologi dan mikrobiologi dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses evolusi alami, ucap Andersen seperti yang diterangkan dalam laman Medical News Today tanggal 20 Maret 2020 lalu.

Telah sejak awal para ahli mengaitkan virus jenis baru tersebut dengan pasar makanan laut di Kota Wuhan Provinsi Hubei China. Makalah – makalah penelitian yang ada menduga bahwa virus tersebut mungkin telah menyebar ke manusia dari mamalia yang diperdagangkan secara ilegal di daerah tersebut.

Untuk menentukan asal – usul virus jenis baru tersebut para peneliti membandingkan ‘backboneSARS-CoV-2 dengan virus lain yang biasa menginfeksi binatang kelelawar dan trenggiling, Mereka melakukannya dengan menggunakan data urutan genetik yang telah disediakan oleh para ilmuwan China.

Andersen dan timnya juga mengamati protein paku – fitur yang digunakan virus corona untuk mengikat membran sel manusia atau hewan yang mereka infeksi. Tim melihat bahwa kepada dua komponen pada protein paku itu yakni domain pengikat reseptor (RBD) yang menempel pada sel inang sehat dan sebuah belahan yang berperan membuka virus yang memungkinkannya menembus sel yang diinfeksi.

Untuk mengikat sel manusia protein paku membutuhkan reseptor pada pada sel manusia yaitu yang disebut angiotensin – converting enzyme 2 (ACE2). Para ilmuwan menemukan bahwa domain pengikat reseptor dari protein paku telah berevolusi menarget ke ACE2 begitu efektif sehingga hanya dapat terbentuk dari hasil seleksi alam dan bukan rekayasa genetika.

Selain itu struktur molekul ‘backboneSARS-CoV-2 juga merupakan pendukung temuan ini bahwa jika virus jenis baru corona itu hasil rekayasa genetik, ucapan para peneliti untuk saat ini merupakan titik awal penelitian yang kemungkinan adalah ‘backbone’ pada virus lain juga sebagian keluarga corona.

Namun yang didapati dalam ‘backboneSARS-CoV-2 sangat berbeda dari virus corona lainnya karena dia paling mirip dengan virus pada binatang kelelawar dan trenggiling. Kedua fitur virus ini dapat bermutasi pada bagian RBD dari protein paku dan ‘backbone’ yang berbeda mengesampingkan manipulasi laboratorium sebagai potensi asal mula SARS-CoV-2, kata Prof. Andersen.

Josie Golding dari Wellcome Trust atau badan amal penelitian yang berbasis di London Inggris, menilai bahwa temuan itu sangat penting untuk menegaskan pandangan yang berbasis bukti dan bukan rumor untuk menjelaskan asal – usul dari virus yang menyebabkan COVID-19. Para penulis menyimpulkan bahwa virus adalah produk dari evolusi alami dan dengan ini akan mengakhiri spekulasi tentang rekayasa genetika yang disengaja.

Selanjutnya para peneliti menjelaskan bahwa hasil temuan mereka memiliki implikasi yang mungkin bisa menjelaskan bagaimana virus ini berasal. Dalam hasil studi yang tertulis skenario pertama bahwa virus berevolusi menjadi patogen pada hewan yang kemudian melompat ke manusia yang sejalan dengan bagaimana virus corona lainnya seperti dari mana SARS dan MERS berasal.

Untuk virus jenis baru corona, penulis juga menduga bahwa kelelawar adalah satwa pembawa virus yang paling mungkin karena SARS-CoV-2 sangat mirip dengan virus corona yang terjadi pada binatang kelelawar. Para ahli lain juga mendukung teori penelitian Profesor Andersen. Profesor Andersen dan rekannya juga sangat menyarankan bahwa ada kemungkinan hewan inang perantara lain dapat menularkan virus dari kelelawar ke manusia.

Hipotesis ini juga dapat menjelaskan mengapa virus menyebar begitu cepat karena kesimpulan menunjukkan bahwa dua fitur khas protein paku SARS-CoV-2 akan membuatnya mampu menimbulkan kekacauan sebelum memasuki manusia.

Skenario kedua yang didapat bahwa virus bersifat non patogenik yang ada pada hewan bisa melompat ke manusia dan berevolusi secara alami yang akan menjadi penyebab penyakit. Skenario tersebut mendukung teori yang menempatkan binatang trenggiling pada awal wabah karena protein paku pada binatang tersebut merupakan beberapa virus yang memiliki struktur RBD dan yang sangat mirip dengan SARS-CoV-2. Namun penulis mengingatkan bahwa tidak mungkin mengatakan skenario mana yang lebih benar di antara keduanya skenario penelitian pada saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *