Fri. Jan 8th, 2021

Itu Aja

Blog Informasi, Artikel Seru, Promo Menarik

Kendati Ada Vaksin, Kementerian Kesehatan Dinilai Masih Banyak PR!

2 min read
vaksin - Kendati Ada Vaksin, Kementerian Kesehatan Dinilai Masih Banyak PR!

Ituaja.com – Keberadaan vaksin Covid-19 bisa menambah optimisme mengatasi pandemi meski ketersediaannya terbatas dan masih berproses. Namun, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Kementerian Kesehatan dalam dinamika yang terjadi.

Anggota DPR RI, Netty Prasetiyani mengatakan, meski vital, vaksin Covid-19 bukan satu-satunya ‘game changer’. Praktik protokol kesehatan di tengah masyarakat masih harus banyak diperbaiki dari segi kebijakan pemerintah.

Selain itu, gugurnya ratusan tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19 jangan sampai menjadi angin lalu. Padahal, proses mencetak seorang dokter dan perawat butuh waktu yang tidak sebentar.

Ini menambah tren negatif dari data rasio dokter hingga kapasitas tempat tidur yang masih rendah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk.

“Vaksin bukan satu-satunya game changer. Vaksin bukan satu-satunya pemutus pertarungan kita dengan Covid-19. Ada banyak yang harus terus diperbaiki, seperti 3M (Memakai masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci Tangan) dan 3T (Testing, Tracing, and Treatment),” katanya di Bandung, Jumat (8/1).

“Rasio dokter kita baru 0,4 per seribu penduduk. Tempat tidur rumah sakit kita baru 1,2 per seribu penduduk. Jadi artinya ini yang harus dijawab oleh menteri yang baru ya. Bagaimana menggerakkan sumber daya kesehatan ini bisa menahan laju Covid-19,” lanjut Netty.

Di sisi lain, dia meminta, pemerintah tetap bisa menjamin keamanan vaksin melalui otoritas terkait seperti BPOM sekaligus tanpa intervensi. Semua pengadaan dari luar negeri atau produksi vaksin dalam negeri harus memenuhi syarat utama.

“Vaksin harus memenuhi aspek safety atau keamanan. Kemudian kedua adalah efikasi, khasiat, dan kebermanfaatan vaksin lalu kualitasnya terjamin. Hasil uji klinis ini dipublikasikan kepada masyarakat dengan transparan, akuntabel dan penuh kejujuran,” imbuhnya.

Transparansi bertujuan agar masyarakat mengerti dan tidak dikaburkan dengan informasi yang simpang siur.

“Kita juga berharap bahwa bukan hanya bicara tentang pengadaan vaksin, tapi proses vaksinasinya harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Karena itu, kita tunggu hasil uji klinis vaksinnya selesai, jangan diburu-buru,” pungkasnya. [fik]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *