Sat. Jan 9th, 2021

Itu Aja

Blog Informasi, Artikel Seru, Promo Menarik

Indonesia Telah Berhasil Impor Alat dan Obat Covid-19, Selanjutnya Bagaimana?

5 min read
Indonesia Telah Berhasil Impor Alat dan Obat Covid-19, Selanjutnya Bagaimana?

Indonesia Telah Berhasil Impor Alat dan Obat Covid-19, Selanjutnya Bagaimana?

Ituaja – Jumlah orang yang terpapar Corona Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Hingga Jumat (20/3/2020), jumlah kasus positif COVID-19 mencapai 369, 17 kasus sembuh dan 32 orang meninggal dunia.

Menghadapi kondisi yang semakin genting, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berjanji mengerahkan seluruh kekuatan guna mengatasi pandemi COVID-19 di Indonesia. Beberapa cara telah ditempuh agar penyebaran COVID-19 tak semakin luas, seperti imbauan social distancing hingga beraktivitas dari rumah.

Terbaru, Jokowi juga menginstruksikan agar segera dilakukan rapid test secara massal dan memperbanyak sediaan alat tes. Jokowi menyebut, mulai Jumat (20/3) tes massal melalui sampel darah itu dilakukan.

“Hari ini pemerintah telah mulai melakukan rapid test sebagai upaya untuk memperoleh indikasi awal apakah seseorang positif terinfeksi COVID-19 ataukah tidak. Pemerintah memprioritaskan wilayah yang menurut hasil pemetaan menunjukkan indikasi yang paling rawan terinfeksi COVID-19,” kata Jokowi di Istana Merdeka Jakarta, Jumat (20/3).

Pada hari yang sama, Juru Bicara Penanganan Percepatan Covid-19. Achmad Yurianto menyampaikan, kit atau alat untuk melakukan rapid test sebagai skrining tes Corona sudah tersedia dan akan dikirimkan ke masing-masing dinas kesehatan provinsi.

“Hari ini juga sudah (ada), kita tinggal kirim 2.000 kit. Harapannya besok sudah bisa masuk ke masing-masing dinas kesehatan provinsi. Kemudian sekitar 100.000 kit lagi yang akan masuk di hari berikutnya,” ungkap Yuri saat konferensi pers melalui siaran live di Kantor BNPB, Jakarta.

Langkah melakukan rapid test secara massal mendapat dukungan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Pria yang akrab disapa Bamsoet ini mengingatkan agar praktik rapid test tidak lantas memancing warga. Menurutnya, Pemerintah melalui tenaga medis bisa mendatangi langsung rumah-rumah warga sehingga tak menimbulkan masalah baru.

“Diusahakan rapid test tidak dipusatkan di satu tempat dan tidak memancing kerumunan massa. Sehingga, menghindari bercampurnya orang yang telah terpapar virus Covid-19 dengan yang masih sehat. Sebab, orang yang terlihat sehat pun sebenarnya bisa berperan sebagai carrier Covid-19 dan bisa menularkan virus tersebut ke orang lain,” ujar Bamsoet

 

Dimulai dari Jakarta Selatan

Seperti telah disinggung dalam temu media, Jokowi mengatakan wilayah yang menjadi prioritas rapid test adalah wilayah yang terdapat kontak dengan pasien-pasien positif COVID-19.

Rapid test memang sudah dilakukan sore hari ini di wilayah yang dulu sudah diketahui ada contact tracking dari pasien positif COVID-19,” ujar Jokowi.

Menurut dia, petugas medis dari rumah sakit dan puskesmas yang ditunjuk mendatangi satu per satu rumah warga di wilayah itu untuk meminta warga melakukan tes Covid-19.

Jokowi mengatakan, wilayah itu ada di Jakarta. “Di Jakarta Selatan,” kata Jokowi.

Mendukung langkah tersebut Ketua MPR Ri berharap rapid test juga akan dilakukan ke seluruh DKI Jakarta dan wilayah-wilayah lainnya yang rentan wabah virus corona baru.

“Sebab, tak hanya DKI Jakarta, mengingat besarnya aktivitas warga dari luar, khususnya dari kawasan Bodetabek yang sehari-hari bekerja ke DKI menggunakan commuter line (KRL) maupun bus yang notabene tak didisinfektan. Maka warganya juga harus segera di rapid test. Saya percaya Pemerintah bisa bergerak cepat, karena kita berkejaran dengan waktu di mana nyawa menjadi taruhannya,” ujar Bamsoet.

Meski demikian, tak semua masyarakat bisa menjalani rapid test. Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan bahwa tes cepat ini diprioritaskan untuk masyarakat yang pernah berkontak dengan pasien positif Corona.

“Kemudian siapa saja target (rapid test), tentunya targetnya adalah masyarakat secara luas terutama mereka-mereka yang secara fisik telah mengalami kontak dengan pasien positif. Tentu ini menjadi prioritas utama,” kata Doni dalam video conference usai rapat terbatas bersama Presiden Jokowi, Kamis (19/3/2020).

Menurut dia, sulit apabila metode tes acak dan massal ini dilakukan oleh seluruh masyarakat. Hal ini mengingat jumlah penduduk Indonesia sebanyak 260 juta jiwa.

“Kalau seluruh masyarakat mengikuti atau mendapatkan rapid test ini mungkin juga akan sulit. Karena akan sangat banyak, penduduk kita jumlahnya 270 juta jiwa,” jelas Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu.

Untuk itu, nantinya tim medis dan tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, dan Badan Intelijen Nasional (BIN) akan mengkaji siapa saja yang wajib menjalani rapid test.

“Mungkin hasil koordinasi dengan tim medis di lapangan, dengan mereka yang terdiri dari tim gabungan untuk bisa beri masukan siapa yang kira-kira wajib melakukan rapid test,” jelas dia.

 

Apa Itu Rapid Test?

Rapid test merupakan mekanisme yang berbeda dengan tes yang selama ini digunakan oleh pemerintah untuk menentukan status positif COVID-19 pada pasien. Karena rapid test ini menggunakan spesimen darah dan bukan tenggorokan atau kerongkongan. Tetapi menggunakan serum darah yang diambil dari darah (pasien),” ungkap Achmad Yurianto.

Kajian untuk melakukan tes Virus Corona (COVID-19) dengan metode rapid test (tes cepat) merupakan salah satu cara yang ditiru Indonesia dari Korea Selatan. Seperti diketahui, Korea Selatan menggunakan metode rapid test dalam mendeteksi Virus Corona baru. Tes ini dinilai sangat efektif menekan penyebaran Virus Corona SARS-CoV-2. Hal itu terbukti membuat angka kematian di Korea Selatan akibat Virus Corona baru turun 0,1 persen atau 84 orang.

Menurut Yuri, metode rapid test memiliki sejumlah keuntungan. Selain cepat, rapid test juga bisa dilaksanakan di hampir semua laboratorium kesehatan di rumah sakit yang ada di Indonesia.

Rapid test menggunakan sampel darah. Sampel darah yang akan diperiksa lebih lanjut, dilihat reaksi imunoglobulin (protein yang disekresikan dari sel plasma yang mengikat antigen sebagai efektor sistem imun)-nya. Dibutuhkan reaksi imunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi Corona COVID-19 paling tidak seminggu sebelum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu.

Upaya ini juga sudah diterapkan di negara-negara lain, yang terdapat kasus Corona COVID-19. “Skrining massal dengan metode imunoglobulin atau pengukuran antibodi di dalam sampel darah ini juga dilakukan oleh banyak negara terdampak Virus Corona,” ujar Yuri.

Seperti namanya, hasil tes cepat ini akan keluar cepat. Yuri menyebut, hasilnya bisa didapat kurang dari 2 menit. Namun jangan keliru, rapid test ini bukanlah untuk diagnosis COVID-19, melainkan suatu tahap skrining.

“Tes Corona massal ini baru tahap skrining saja, bukan untuk deteksi atau diagnosis pasti orang yang bersangkutan positif atau tidak kena COVID-19,” kata Juru Bicara Penanganan Percepatan COVID-19 Achmad Yurianto.

Tujuan dari skrining massal menggunakan rapid test untuk membantu penanganan potensi penyebaran COVID-19. Dan meski dilakukan secara massal, bukan berarti tes ini menyasar masyarakat secara luas per individu. Rapid test ini dilakukan kepada orang-orang yang dicurigai punya gejala COVID-19, berkontak dengan teman atau rekan kerja yang positif atau ada gejala COVID-19.

Menyoal rapid test, Herawati Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dalam diskusi jarak jauh yang diadakan oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) beberapa hari lalu mengatakan tingkat kepercayaan pada tes ini paling rendah dibandingkan tes lainnya.

Menurut Hera, melakukan tes secara masif memang diperlukan dan sangat baik. Namun Hera mengingatkan agar mempertimbangkan tingkat sensitivitas tes.

Rapid test mudah, 5 menit. Tapi hati-hati, jangan kayak kita ambil tes hamil di supermarket. Tes lalu positif. Perlu diketahui, hasil positif yang muncul belum tentu dia betul-betul terinfeksi. Sebaliknya, hasil negatif tidak bisa menyingkirkan ada infeksi COVID-19 tersebut. Kalau negatif juga tidak meyakinkan dia berpotensi tetap menularkan kepada yang lainnya. Ini yang dimaksud hasil (rapid test) bisa false negative atau false positive,” jelasnya.

Selain itu, Hera mengatakan rapid test memiliki kelemahan lain. Hasil negatif bisa saja didapat dari individu yang kekebalan tubuhnya turun atau immunocompromised. “Kalau mereka yang immunocompromised (kekebalan tubuhnya turun), tidak bisa membentuk zat antibodinya, dia bisa negatif. Padahal karena sakit, bisa saja dia positif.”

“Silakan saja gunakan rapid test untuk awal, namun hasil penelitian tetap mengacu pada molekuler sebagai landasan dari kebijakan,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *