Sat. Jan 9th, 2021

Itu Aja

Blog Informasi, Artikel Seru, Promo Menarik

Horor, Miliaran Semut di Banyumas Belum Berakhir!

3 min read
semut - Horor, Miliaran Semut di Banyumas Belum Berakhir!

Ituaja.com – Teror miliaran semut di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Banyumas, ternyata belum berakhir. Padahal sudah hampir tiga pekan semut berjenis Tapinoma sessile atau lebih dikenal dengan nama semut Bau tersebut disemprot pestisida oleh warga.

“Ya masih banyak, paling jumlah yang mati 5 persen setelah penyemprotan massal itu. Di pohon-pohon masih utuh masih seperti semula, masih bertelur, tidak ada pengurangan sedikit pun,” kata salah satu warga Desa Pageraji, Hidayat, kepada ituaja.com, Sabtu (5/12/2020).

Dia mengatakan bahwa warga selalu rutin melakukan penyemprotan sekitar tiga hari sekali menggunakan pestisida yang diberikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun jika setelah tiga hari tidak dilakukan penyemprotan, semut tersebut kembali muncul dan masuk ke rumah-rumah warga.

“Untuk di rumah-rumah setelah penyemprotan untuk satu dua hari aman, nanti datang lagi, kita semprot lagi. Ya untuk yang di rumah (aman) tapi untuk yang di kebun kebun masih utuh, masih seperti semula belum ada perubahan. Cuma yang di rumah-rumah setelah habis disemprot 2-3 hari aman. Tapi setelah 3 hari harus disemprot lagi kalau tidak nanti datang lagi nyerang terus,” jelasnya.

Biasanya, lanjutnya, warga datang ke BPBD Banyumas untuk mengambil dua jenis obat pembasmi serangga yang disatukan menjadi 6-10 paket. Tapi itu pun dianggapnya masih kurang cukup untuk menyemprot ke rumah warga yang terdampak teror semut hampir 40 rumah.

“Mungkin karena BPBD sibuk dengan COVID-19, sibuk dengan bencana-bencana yang lain, jadi mungkin akhirnya warga sendiri yang menangani. Cuma kita tetap dapat suplai obat (pestisida) dari BPBD, cuma belum berkurang secara signifikan,” ujarnya.

“Usul kita, BPBD menambah jumlah obatnya, kita kadang datang ke sana dikasih 6 sampai 10 paket, padahal banyak banget (semutnya). Kalau sekedar 6 atau 10 hanya cukup untuk beberapa rumah, ini hampir 3 mingguan dari penyemprotan massal itu, padahal prediksi bupati 1 bulan selesai,” lanjutnya.

Dia berharap jika wabah semut yang meneror warga RT 3 RW 3 Desa Pageraji segera selesai. Sehingga warga dapat beraktivitas seperti biasanya.

“Keinginannya ya wabah semut ini segera tuntas, setidaknya bisa dikendalikan tidak mengganggu warga, tidak mengganggu para petani, penderes,” ucapnya.

Diketahui, teror semut di Desa Pageraji, Cilongok, Banyumas, bermula di tahun 2017. Saat itu warga melihat banyak semut berdatangan dari arah lokasi penggergajian kayu lalu merambati benda-benda di pekarangan warga. Tak terduga, semut-semut itu kini berubah menjadi teror yang meresahkan.

Selanjutnya, kesaksian warga soal awal mula teror miliaran semut…

Munjiat (50), seorang warga Desa Pageraji mengatakan, pada tahun 2017 itu dia melihat gerombolan semut mulai menyeberang ke rumah warga. Dirinya saat itu bahkan sempat menghalau semut-semut tersebut.

“Berawal dari tempat gergaji kayu, saya lihat dulu baris-barisnya semut itu, menyeberang ke arah utara, Tapi waktu itu saya tidak kepikiran mau sampai sebanyak ini. Ternyata lambat laun selama tiga tahun lebih, ternyata sudah mewabah hampir satu RT,” kata Munjiat saat ditemui di lokasi, Minggu (15/11).

BPBD Banyumas dan polisi sudah turun tangan menangani teror semut yang meresahkan warga Desa Pageraji. Water cannon ikut dikerahkan untuk menangani teror semut itu.

“Upaya yang dilakukan, yang pertama pembakaran kayu-kayu yang sudah lama dan menjadi sumber semut, ribuan, jutaan bahkan miliaran semut. Selain dibakar, hari ini juga kita semprot (menggunakan water cannon) bekerja sama dengan Polresta Banyumas melakukan penyemprotan pakai pestisida,” kata Kepala Pelaksana BPBD Banyumas Titik Puji Astuti kepada wartawan, Minggu (15/11).

Titik menerangkan penanganan dilakukan dengan menyemprot pestisida ke rumah dan pohon warga. Dia juga mengerahkan water cannon untuk menyemprot lokasi gergajian kayu yang diduga menjadi tempat berkembang biak semut tersebut.

Selain itu, para ahli juga turut meneliti jenis semut yang meneror Desa Pageraji tersebut. Dari hasil identifikasi, diduga semut-semut tersebut berjenis Tapinoma sessile atau dikenal juga dengan nama semut Bau.

“Setelah identifikasi di laboratorium, dugaan kami itu adalah jenis Tapinoma sessile atau lebih dikenal dengan nama ‘semut bau’. Karena dia memang setelah kami pencet pun ternyata memang ada bau, ini memang sebenarnya jenis yang biasa saja dan tidak seganas semut api,” kata Kepala Laboratorium Entomologi dan Parasitologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Trisnowati Budi Ambarningrum, saat dihubungi detikcom, Rabu (18/11).

Dia mengatakan jenis semut ini banyak bersarang di tanah dan hidup berkoloni dengan lebih dari satu ratu. Trisnowati mengatakan teror semut di Desa Pageraji diduga karena populasinya sudah cukup tinggi ditambah lingkungan sekitar yang mendukung perkembangbiakan semut-semut tersebut.

“Sebenarnya ini semut rumahan, cuma populasinya tinggi, karena memang lingkungannya di sana lembap banget, hawanya juga dingin, jadi dia suka,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *