Fri. Jan 8th, 2021

Itu Aja

Blog Informasi, Artikel Seru, Promo Menarik

Apa Sebab Pola Makan Dikatikan Dengan Meningkatnya Deperesi?

2 min read
pola makan

pola makan

Ituaja.com – Profesor Felice Jacka, direktur Food and Mood Center yang dipimpin oleh Deakin University, menjelaskan bahwa makanan utuh lebih disukai tubuh daripada makanan olahan. Sebab, makanan olahan menyebabkan peradangan di seluruh tubuh dan memengaruhi usus.

Pola makan atau diet seseorang memengaruhi risiko peningkatan depresi. Dia mengatakan, hasil dari diet Mediterania dan diet tradisional di Jepang terkait dengan depresi.

“Mikrobiota usus kita mendorong peradangan di tubuh kita, yang dapat memengaruhi metabolisme, pengaturan glukosa, berat badan, dan kesehatan otak kita,” ujar Prof. Jacka dikutip dari SBS.

BACA JUGA : Terlibat Keributan di Capital Building, Anggota Brimob dan Dilantas Poldasu Dianaya Kelompok Oknum Anggota DPRD Sumut.

“Faktor terpenting yang memengaruhi usus kita adalah pola makan kita. Anda dapat mengubah mikrobioma usus dalam beberapa jam setelah Anda mengubah diet,” tambahnya.

Sementara itu, dalam sebuah ulasan tentang mikrobioma usus dari tahun 2015 menemukan bahwa mikrobiota usus berperan dalam mempertahankan fungsi penghalang usus.

Ini menunjukkan bahwa gangguan fungsi ini dapat memengaruhi sistem saraf pusat kita dan menyebabkan gangguan kejiwaan yang berkaitan dengan stres.

Ulasan lain yang lebih kecil pada sumbu usus-otak, yang diterbitkan pada tahun 2017, menyoroti pentingnya mikrobioma yang sehat, terutama mikrobiota usus, untuk orang yang hidup dengan kecemasan dan depresi.

Ini juga menghubungkan ketidakseimbangan dalam mikrobiota usus dan peradangan pada sistem saraf pusat dengan penyebab potensial penyakit mental.

“Jadi, jika Anda menerapkan pola makan yang ramah usus, diet yang tinggi serat nabati, buah-buahan, sayuran, polifenol, dan lemak sehat, maka Anda menghindari hal-hal yang dapat merusak usus, seperti pemanis buatan dan pengemulsi,” tuturnya.

BACA JUGA : Ahli Temukan Jenis Berbeda dari Virus Corona yang Menakutkan

Sebaliknya, kata Prof. Jacka, apabila kita menerapkan pola makan yang ramah terhadap usus, ini akan memberikan manfaat positif bagi hampir setiap aspek tubuh dan otak kita.

Namun, ia menekankan bahwa diet sehat tidak boleh menggantikan bentuk lain dari perawatan medis. Keduanya harus selalu berjalan seiring dengan terapi dan obat-obatan, seperti yang direkomendasikan oleh seorang ahli kesehatan mental atau medis.

“Diet bukan satu-satunya hal yang akan menyebabkan atau mengobati depresi. Kami sama sekali tidak menyarankan bahwa orang mengadopsi diet sehat daripada mengikuti bentuk-bentuk perawatan lain,” jelasnya.

“Melakukan diet sehat adalah sesuatu yang Anda lakukan, dibarengi dengan berolahraga, (untuk menciptakan landasan yang baik) untuk kesehatan mental Anda,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *